Untuk Sebuah Nama Bukan Senja

Bersandar pada teriknya, panas semakin menghalau kebekuan.
Bukan dinginnya es, tapi tentang mulut yang membisu.
Akhirnya pohon rindang sedikit memberi warna, meski bukan pelangi, melainkan hati.
Hati yang mulai bicara pada pandangan mata.
 
Tatapan tak sempurna, tersipu bahkan hampir tersapu bayu.
Bercerita lewat gemuruh ombak dan sepoi yang menerpa wajah berdua.
Beranikah membaca pikiran, apa kita sama?
 
Siang makin meninggi, dan burung enggan terbang lagi.
Berlindung di balik daun yang tercerai, merasakan hangatnya pinggir pantai.
 
Ada kah cerita hati di balik semuanya?
Tentang perjalanan sesaat yang lebih sering diam, tapi menghanyutkan.
Kenapa? Apa kamu tak tahu setelah itu jadi merindu.
 
Kita bersama sebelum sore tiba,
hingga jalanan Jogja memisahkan,
bukan kita tapi cerita sebelum senja.
 
27/1/2016 ; 15:41

Advertisements