Pertama kali ketemu pakde ituu…bulan Juni. Tahunnya? Ng..2000 berapa yaaa…hah…payahlah ingatanku…bisa jadi 2014. Di Monjali, pas aku ada persiapan untuk acara wisudaan anak-anak. Ketemunya aja aneh! Wkwkwkwk
Cuma tengok kanan, kiri, ohh itu orangnya. Say hello, barter buku, udah. Gitu aja…

Trus setelah itu ketemuan lagi di Calais pas habis lebaran, sama Mamiih dan si Om, Pakde ngajakin Nana. Nyangsang di Gramed, dan dikenalin sama mbak-mbak cantik berambut panjang, Fetih namanya.

Pertemuan-pertemuan berikutnya ndak begitu inget kapannya. Yang jelas akhir desember kami bertemu lagi dan jalan-jalan bareng tamu cantik dari Kota Pahlawan, Surabaya. Kemana? Ya ke Ullen Sentalu, Museum Gunung Api Merapi, Rumah Mbah Marijan, dll. Yang terkenang ituu, ketika kami ke rumah Mbah Marijan. Baru jalan berapa meter dari parkiran, Pakde udah nyerah, milih melipir ke warung pinggir jalan. Katanya, “aku nunggu sini aja” 😥😥
Pas aku sama kakAngs ke Bonbin aja, Pakde ndak mau nyusul. Katanya males jalannya. Kalau udah pindah tempat kabarin aja, ntar nyusul. 😥😥

Kejadian yang seperti itu ya terulang lagi pas kita pergi ke Nglambor. Yang lain asyik main air, Pakde memilih dipinggiran, di tempat teduh, sambil jagain tas. 😁😁

Pas ke kebun Teh Nglinggo juga gitu dings. Aku berdua jalan-jalan sama temenku, Pakde nunggu di deket parkiran sambil baca buku.

Oia..kalau kata orang-orang sambal buatan Pakde itu lezatos, aku adalah orang yang kena tipu. Sudah request cabenya ndak usah banyak-banyak, cukup 7 aja, nambah jadi 9, eee lah kok pas meleng ditambahin lagi. Walhasil yaa puedesnya ndak ketulungan, bikin perut panass.

Pakde orang yang belum pernah kulihat kemarahannya. Semoga ndak lah yaa…
Pakde adalah orang yang selalu berbahagia…ini ngakunyaa…
Murah senyum, kalau ketawa ngakak ditinggal pergi juga ga bakalan sadar. Ehh 🙊🙈

Apalagi yaa? Keknya masih banyak yang belum diceritakan, tapi tak apalah…

Yang jelas…met milad Pakde…barakallah…semoga Pakde segera dipertemukan dengan Budhe. Kalaupun ternyata sudah ketemu, dan kami-kami inilah yang belum tahu, yaaa semoga segera dilaunching, dilegalkan maksudnya…wkwkwkw
Biar hestek #KamibutuhBudhe nya udahan 😄😁

NB: maunya sik upload photo Pakde yang pake blangkon, tapi kelamaan ngubek-ngubeknya…yakin banyak yang ndak percaya kalau itu Pakde.😄😁😀 – with Alan

View on Path


Berdo’alah kalian kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkan permohonan kalian.
Bersyukurlah, maka akan Ku tambah nikmatmu.

Yhaa…ungkapan itu benar adanya… Bahwa kata adalah sebagian dari do’a. Pun itu sekedar lintasan dalam hati.

Kemarinnya, saya pergi ke Pasar. Setelah sekian lama ndak ke Pasar Giwangan, saya tergoda untuk kesana lagi. Bukan beli yang macem-macem, apalagi beli bahan sayur. Bukan..bukan itu… Saya ke pasar Giwangan membeli jeruk nipis. Untuk apa? Melanjutkan kebiasaan yang sempat terskip lamaa sekali karena harga jeruk nipis mahal, sudah begitu tak banyak airnya pula. 😥😥
Pas mau pulang ee lah kok lihat jagung manis. Ya syudahlah…karena tergoda, akhirnya ya berujung dengan membelinya..5k 1kg ini kok.

Keesokan paginya, jagungnya saya potong-potong, kemudian dikukus. Bisalah untuk sangu saya ke kantor. Nah, sepanjang jalan, yang terpikir oleh saya bukanlah jagung manis rebus, tapi bagaimana caranya memipil jagung manis untuk dibuat jagung manis keju + coklat?

Dan…siangnya, ada yang mengantarkan snack. Apa coba? Yhaaa..jagung manis keju. Meski agak-agak tergoda sama pudingnya sik. Tapi yauwislah..wong tadi cuma kepikir selintas, trus sama Allah dikasih, kenapa ndak bersyukur saja? Toh tinggal menikmati ini.. 😊☺

Tadi pagi, pas lewat siomay yang mangkal di pertigaan MTS, lagi-lagi aku mbatin. Dan taraaaaaa!!! Allah kembali mewujudkannya, bonusnya yaa puding nanas. Aaa..alhamdulillah..namanya rezeki tidak akan tertukar apalagi salah alamat..

Mari bersyukur dari hal-hal yang terkesan sepele, yang diwujudkan sama Allah…

View on Path

BTS #2


Menyambung tulisan yang telah lalu…

Ini adalah sebagian dari anggota Genk Makan di mana. Sebuah genk yang namanya betul-betul absurd. Berawal dari Pakde dan saya yang lumayan sering kedatangan teman dari luar kota, yang meminta kami untuk menjadi guide dadakan. Daripada riweuh, diinvite-lah si tamu menjadi anggota group. Jadi, mau pergi kemana, jam berapa, semua bisa membaca dengan sendirinya. Setelah si tamu pergi, ada yang suka rela left dari group, ada yang minta ditendang, sehingga ada yang sempat marah-marah. #ehh

Seiring berjalannya waktu, anggota tetap group menjadi bertambah, dan fungsinya pun berubah. Ada Mamiih Risti , ada KakMoo , ada Mas Ahmad  dan yang terakhir masuk adalah si Om Tyo. Yaa, kami berenam. Hanya saja dalam photo yang di atas, meski kami bertujuh, tapi beda orang. Kakmoo sudah mudik ke Padang. Mas Ahmad sibuk mencari segenggam berlian bersama Kak Lilik. Jadi sebagai tambahan adalah mereka yang istimewa bernama Mas Fajar dan Dik Farrah (kata Olih) . 

Oiaa!! Sebetulnya ada 1 lagi, hanya saja karena kesiangan, akhirnya ditinggalkan. Akibatnya yaa, nyasar di Indomaret 😑😑, entah kali ini yang ada ATM BRI-nya atau ndak. :mrgreen:😁Yaaahhh…namanya saja duta nyasar. Biarlah itu tetap menjadi miliknya…siapakah gerangan? Kalian bisa menebaknya sendiri kok.

Mereka yang menyempatkan datang diantara berbagai kesibukan, merupakan kado terindah bagi kami. Do’a-do’a dipanjatkan dengan tulus ikhlas, semoga diijabah oleh Allah. Dan semoga Allah selalu melimpahkan keberkahan untuk kita semua. Aamiin… Sungguh ucapan terima kasih dari kami tak dapat menandingi apa yang telah mereka berikan.

Sertifikat no #3 kini menjadi milik saya dan suami. Sungguh tak pernah terbayang, saya mendapatkan no urut 3. Yang pertama milik Mamiih Risti dan Om Tyo, yang kedua milik Mas Ahmad dan Kak Lilik, yang keempat? Wallahualam…antara Pakde dan Kakmoo siapa yang akhirnya mendapatkannya. 

Mereka, anggota Genk-lah yang tahu, bagaimana perjalanan kisah kami berdua. Ada sih, 1-2 orang diluar Genk yang tahu. Bagaimana awal kami kenal, kemudian bertemu, meyakinkan masing-masing ini adalah hal yang serius, dan pada akhirnya memutuskan bahwa, ya, hubungan kami akan kami bawa ke jenjang pernikahan. Pertengahan Desember awal mula kami kenal, dan hanya sekedar kenal. Enam setengah bulan setelahnya, tepat 01 July 2016 kami menikah. 

Bismillah…semoga Allah meridhoi langkah kami, melimpahi kami keberkahan, memberikan nikmat kepada kami berupa hidayah, dan menjauhkan kami dari perbuatan-perbuatan yang menyekutukan-Nya. Memberikan kesehatan kepada ibu-bapak kami, menyayangi mereka, dan melindungi mereka. Aamiin..Ya Allah..kabulkanlah permohonan kami..

#tbc


Zaman dahulu kala~~
Paus itu hidup di darat. Dia mempunyai kaki, seperti Kudanil, Sapi, dsb.

Suatu hari Kudanil bercerita kepada Sapi dan Paus, bahwa ayahnya pernah berkata, kalau diseberang sana ada lautan. Adakah yang mau ikut dengannya melihat laut? Sapi ndak mau ikut. Yang tertarik untuk melihat lautan adalah Paus.

Dengan berjalan kaki, mereka berdua mendaki gunung, hingga sampailah di padang pasir yang sangat panas.

Di padang pasir mereka menemukan oase. Kudanil memilih untuk berenang-renang dan tinggal di Oase. Baginya lautan tak lagi menarik. Lain halnya dengan Paus, yang masih penasaran dan memilih untuk melanjutkan perjalanan.

Paus kembali mendaki gunung, melewati lembah, mendaki gunung lagi, melewati lembah lagi, hingga akhirnya di gunung yang terakhir, tampaklah air laut yang kebiruan.

Paus terjun ke laut, dan berkata “Laut, bolehkah aku memelukmu?”. Laut menyambut Paus dengan menggerakan ombaknya. Hangatnya pelukan Laut, sehangat pelukan seorang ibu. Kemudian kaki-kaki Paus berubah menjadi sirip, dan badannya pun berubah menjadi halus dan indah.

#PapepopoRainbow

View on Path

Mudik #1


Pastinya istilah MUDIK tidaklah asing terdengar ditelinga kita masing-masing. Ya, mudik adalah sebuah tradisi yang lazim di Indonesia. Terjadi ketika jelang lebaran. Mudik sendiri berasal dari paduan kata mulih dhisik, yang berarti pulang dulu, dan setelah pulang kemudian kembali dan melanjutkan aktifitas masing-masing.

Dulu, sering terlintas dalam pikiran saya, bagaimanakah rasanya mudik? Ya, karena seumur-umur saya belum pernah merasakan mudik. Kedua orangtua saya aseli Jogja, jadi mudik adalah sebuah hal yang mustahil bagi saya.

Namun kemustahilan bagi saya, sangatlah mudah bagi Allah untuk menjadikannya sebuah kemungkinan. Bahkan mewujudkannya. Ya, lebaran kali ini, saya untuk pertamakalinya merasakan apa itu mudik.

Tepat di hari kedua lebaran, saya dan suami berangkat menuju kota Wonosobo. Sebuah kota di mana suami saya dilahirkan, dan merupakan tempat tinggal dari orangtua saya yang baru alias mertua. 🙈
Berangkat dari rumah lebih kurang jam 16.15, dengan mengendarai sepeda motor, kami berdua berangkat mudik. Lewat jalur yang paling singkat, kalibawang-borobudur-salaman-kepil-sapuran-kalikajar. Hmmm ada yang terlewat tidak ya? Semoga saja tidak… 😁:mrgreen:

Sempat berhenti di rest area Beran untuk sholat maghrib. Sebuah kejadian tragis saya alami. Terpelanting ketika keluar dari kamar mandi dan dilihat banyak orang. Antara sakit dan malu. 🙊🙈

Mampir makan bakso di pasar Sapuran. Ya, karena masih banyak warung yang tutup, jadi seketemunya saja. Tak ada akar, rotanpun jadi.

Lepas isya’, alhamdulillah kami sampai rumah. Untuk pertamakalinya pulalah saya menginjakkan kaki di rumah mertua. Maklum…sebelumnya tak sekalipun saya kesana. Meski saya bisa menebak bahwa rumahnya menghadap ke timur, tapi begitu sholat, saya malah jadi bingung. Karena menurut saya, saya sholat menghadap ke utara. 😅😅

Setelah sungkem sama bapak dan ibu, saya diajak Ma2se ke rumah mbak yang letaknya ndak begitu jauh. Jalan kaki 5 menit sampai, kalau cepat yaa cukup 3 menit saja. Ndak banyak yang diobrolin, jadi kami kemudian pamit untuk beristirahat. 

#tbc

bts #1


Sepanjang umur saya, bisalah yaa..dihitung dengan jari, berapa kali saya didandani oleh orang lain. Bukan, bukan karena tidak ada event, melainkan karena saya tidak suka dandan. Kalau tidak terpaksa sekali, ndak bakalan saya mau didandani. Itupun rewel sekali.

Kemarin, mau tidak mau, saya meminta bantuan seorang teman untuk mendandani alias mempermak wajah, biar sedikit tampil berbeda. Karena kalau saya dandan sendiri, pol mentok cuma pakai pelembab, bedak pigeon yang tidak begitu kentara, senasib dengan lipstik pixy oranye yang tak jauh bedanya. 😂😂
Oleh karena tidak bisa membedakan kuas blush on sama kuas kue, ya akhirnya minta tolong. Alhamdulillah yang dimintai tolong cukup sabar dengan segala syarat yang saya ajukan. Tidak mau menor, yang soft saja. Tidak mau pakai bulu mata, meskipun itu yang pendek. Tidak mau dikutek, meskipun mau dibawakan remover. Jadi kemarin, jari-jari kuku yang kiri masih tampak sisa ungu kebiruan akibat keisengan saya pakai henna yang hitam, dan yang kanan alhamdulillah tampak normal.
Sudah begitu, saya sukses membuat teman saya sampai keringetan, karena kerudung yang saya pakai berbahan cukup tebal. Tidak seperti bahan kerudung paris maupun rawis. Jadi kalau mau dibentuk yang macem-macem itu sulit. Tapi, alhamdulillah..akhirnya jadi juga…
Ya begitulah…bts part 1. Dibaca ya silakan, kalaupun ndak yaa tidak masalah..

Oia kalau kalian yang ada di seputaran Jogja ingin make up, bisa lah japri saya. Nanti saya berikan no temen saya.. :)😄