Terjebak [Tersesat] di Kota Sendiri 🙈


image

Depan Malioboro Mall

Ada yang pernah tersesat?
Ada yang pernah terjebak?
Ada yang suka bertingkah konyol?
Saya yakin, pasti banyak diantara kalian yang sudah pernah mengalaminya.

Jadi begini, petualangan saya hari Senin malam [09/5/16] terjadi karena [izin Allah itu sudah pasti] ditolaknya ajakan saya untuk nonton AADC 2. Maksud hati biar kekinian, apadaya tak ada teman. Ehhh 🙊

Teman saya lebih memilih untuk diajak jalan-jalan daripada nonton film–yang katanya tak ada nilai manfaatnya. Ya sudahlah…saya manut saja. Akhirnya diputuskan, kami berdua jalan-jalan ke Karita–[itung-itung mencari kostum]. Sebuah toko busana Muslim yang berada di Jalan C. Simanjuntak. Meski hujan gerimis, tapi tak sedikitpun menyurutkan niat kami.

Di Karita, kami tak mendapatkan apa yang diinginkan, alhasil kami melipir ke seberang jalan, di mana toko Pands berada. Ketemu sik dengan apa yang dicari, tapi untuk warna belum cocok dihati. Tak berapa lama, kami langsung undur diri. Pas di pintu, ada pegawai yang bertugas menyambut setiap pengunjung yang datang dan menyapa yang mau pulang. Dan dengan PDnya, saya menjawab setiap hal yang masnya ucapkan. 😅😅

Belum mendapatkan yang dicari, membuat kami melanjutkan perjalanan menuju Malioboro Mall. Sekalian PKL, bagaimana sik parkir di ABA? Nah! ‘Kebodohan’ pun dimulai. Kami dari arah timur, bermaksud parkir di ABA, berarti harus putar balik dulu, baru bisa masuk area parkir. Sebelum memasuki jalan Pasar Kembang, saya sudah menengahkan motor mendekati jalan putusan didekat pagar besi yang dijadikan marka jalan. Bertanya-tanyalah saya lahir dan batin. Eee ndak tahunya ada Pak Polisi yang ‘ngawe’ untuk ke pos jaga–Kebetulan pos jaga ini berada tidak jauh dari tempat saya berhenti dan kebingungan. Karena tidak saya respon, Pak Polisinya mendekati kami. Sebelum ditanya macam-macam, saya bertanya lebih dulu. Boleh tidak kalau saya mau putar balik disitu–sambil mbatin semoga tidak kena tilang. Pak Polisinya juga bertanya, “Kamu punya SIM ga?”. Saya jawab punya dongs, kan memang punya SIM. “Trus, bisa baca tanda itu ndak?”, Pak Polisinya nanya lagi. “Ohh itu ya pak, jadi ndak boleh pak? Yaudah ya pak, makasih pak”. Ngibrit sengibrit-ngibritnyalah kami berdua. Pas sudah agak jauh, masih was-was, takutnya Pak Polisi yang tadi ngejar. Alhamdulillah, tidak dikejar, dan kami puter balik disekitaran pintu masuk stasiun Tugu.

Pas lewat di depan pos jaga, disempatin nengok, Alhamdulillah…Pak Polisinya yang tadi ndak ada. Dan akhirnya berhasil pula parkir di ABA blok B. Pintu/jalan masuk ke parkiran ini, sudah nanjak, sempit pula. Kalau belum terbiasa naik motor, saya sangsi bakalan berani parkir, kecuali orangnya nekat. Parkirnya sendiri bebas mau di lantai 2 atau 3 untuk kendaraan roda 2. Nah semalem saya parkir di lantai 2. Sama bapak-bapak tukang parkirnya diberikan karcis yang bertuliskan kode blok dimana kendaraan diletakkan. Misal A, B, C, dan seterusnya. Untuk membayarnya ndak langsung seperti dulu, ketika mau keluar dari parkiran baru membayar. Tarifnya berapa? Sejujurnya saya pun bertanya-tanya karena bapaknya yang memberi karcis ditanya ndak menjawab, ketika dipintu keluar dibayarkan sebesar 2K, ndak ada komentar. Jadi anggap saja tarifnya memang segitu.

Karena sudah mendekati maghrib, tujuan pertama setelah parkir adalah masjid Malioboro atau bisa disebut juga masjid DPRD. Sholat maghrib berjamaah ini lancar, yang dudul adalah ketika temen saya memakai bawahan mukenanya terbalik. Yang bawah berada di atas, yang atas berada di bawah. Sadarnya ketika sholat jamaah maghrib sedang berlangsung. 😂😂

Oia, untuk menuju ke masjid ini, kami harus menyebrang jalan Malioboro yang ruamenya puoll. Alhamdulillah, berhentinya tepat di sebelah alat yang membantu menyebrang. Kita tinggal mencet tombolnya, supaya lampu petunjuk untuk pengendara motor/mobil menjadi merah, dan hijau untuk pejalan kaki. Tapi ternyata tidak semua menghargai upaya itu. Ada aja mobil yang mbablas. Dan banyak pula yang menyebrang jalan seenak udelnya sendiri-sendiri. Padahal jelas-jelas sudah dipersiapkan fasilitas. 😥😥

Mencoba merasakan trotoar Malioboro yang terasa lebih lapang. Secara dulu full dengan motor yang diparkir. Ng…belum bisa berkomentar banyak sik. Hanya saja untuk sisi barat jalan Malioboro masih bau pesing. Yaahhh, harapan ke depan, semoga Kota Jogja tertata lebih baik. Banyak disediakan ruang terbuka hijau, dan tentu saja bersih. Jujur…iri sekali melihat Kota Malang, yang banyak sekali ruang terbukanya. Andaii saja Jogja bisa mewujudkannya. Gosip/Wacana akan dibuatnya taman di sekitaran jalan Ahmad Dahlan, semoga tidak berhenti hanya di wacana/gosip saja. Melainkan ada upaya untuk mewujudkannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s