Jadi begini..

Mungkin memang akunya yg katrok kali ya. Lihat setor tunai di ATM BRI, yg ada terheran-heran. Mana nglihatnya pas mudik ke Wonosobo kemarin. Yg kepikir, lah di sana aja ada. Di Jogja pasti juga ada dongs.
Nah, maka dari ituu, guglinglah aku. Nyari ATM BRI yg bisa untuk setor tunai. Dari berbagai macam pilihan tempat yg ada di Jogja, yg paling gampang dijangkau ya yg BRI Katamso.

Secara sebelum-sebelumnya, kalau mau nabung ya terpaksa titip transfer dgn membayar biaya administrasi. Maklum harus ngantor. Jadi dgn adanya setor tunai di ATM ini, merupakan solusi yg tepat banget bagiku.

Ng..pertama kalinya masuk ruangan ATM ya gitu. Ndesooo bener. Tengok kanan-kiri, nglihatin deretan mesin yg mana yg bisa digunakan. Trus pas sudah melihat tulisan setor tunai, baru deh mendekat ke mesin ATM-nya.

Langkah-langkahnya bagaimana, aku sik sudah pernah baca di internet, tapi pas di depan mesin ya sempet gagap juga. Yg jelas harus siapin dulu uang yg mau disetorkan sama kartu ATMnya. Selanjutnya:

1. Masukkan kartu ATM, kemudian PINnya.

2. Pilih option setor tunai. Setelah dipilih akan muncul “masukkan uang anda”, trus masukkan deh uangnya ke dalam kotak yg terbuka. Dirapikan dulu ya uangnya..kalau bisa emang uang yg ndak lecek, krn mesinnya ternyata pilih-pilih juga. Kemarin uangku sempat ditolak beberapa lembar. Ya krn ada robekannya dikit pas ditengah-tengah. Walhasil ya dituker sama yg lain, biar yg disetorin tetep genep.

3. Setelah kotak ditutup, uang dihitung sama mesin, kemudian muncul di layar, berapa lembar uang yg disetor, nominal berapa, total berapa. Kalau sudah betul lanjutkan prosesnya.

4. Di layar akan muncul informasi berupa nama pemilik rekening beserta rekeningnya. Setelah itu lanjut saja.

5. Setelah selesai, struk setoran akan dicetak. Simpan, krn bisa digunakan sebagai bukti setoran.

6. Ada baiknya selesai setoran, cek dulu saldo tabungan. Beneran sudah tambah atau belum? Kalau harusnya sik sudah otomatis.

Setor tunai di ATM itu gampang dan praktis. Selain itu bisa sewaktu-waktu, tanpa harus terikat oleh jam kantor.

Jadiii…bang bing bung yuuk kita nabung πŸ˜„πŸ˜„

View on Path

Advertisements

Jadi beginii..

Tadi berangkat ke kantornya udah kesiangan. Ndak bawa bekal yang lainnya, cuma air putih thok.

Sepanjang perjalanan, mbatin mulu nih. Dari yang ndak bakalan sempet beli sarapan, karena bakalan makin siang nyampe kantornya. Sampai kepikiran kalau minta Mamas utk nganterin sarapan aja apa yaa.. Tapi option utk minta dianterin sarapan itu langsung aku nomer terakhirkan. Apa pasal? Yaa kesian aja sik…kok ya ngrepotin banget.

Walhasil yaa, coba cari alternatif lain. Terpikir lotek yang di Primaswa. Sejauh ini, menurutku lotek Primaswa adalah lotek terenak. Meski harus nunggu buka sampai jam 10an. Atauu kalau mau lebih gasik ya ke nasi padang Giwangan.

Ternyata eh ternyata, begitu sampai kantor ada temen yg nawari sarapan. Di angkringan sik. Tak apalah, ndak masalah. Katanya mau nitip apa? Nasi, kerupuk, tahu bacem, teh anget, mendoan. *banyak yaa* πŸ˜…πŸ˜…

Eehh..pesenan belum datang, tiba-tiba ada WA masuk. Dari Mamas. Mamas nanya, udah sarapan belum, mau bubur? Katanya lagi, mumpung belum jalan pulang. Itulah yg namanya rezeki nomplok. Ndak nolak lah yaa..langsung aja kujawab MAUUUUUU!!
Padahal biasanya, yg namanya dianterin sarapan itu, harus by request dulu. Manja? Ng..bisa jadi. Wkwkwkwkw.. Tapi kadang-kadang sik. Ndak seminggu sekali juga. Kalau beneran kepepet aja, makanya request sarapan. Itupun yg aku ndak memungkinkan utk beli sendiri.

Alhamdulillah…alhamdulillah…alhamdulillah…
Makasih Ya Allah sudah menyampaikan keinginanku *yg dibatin* ke Mamas..
Makasih Mamas udah nganterin sarapan.. πŸ˜™πŸ˜™

View on Path

Ayam Goreng 🍗🍖


Allah itu baik…Maha Baik…
Jadi begini…kemarin digroup WA dipublishlah jadwal pendampingan ngaji. Dan, tarraaa! Aku yang mendapatkan giliran. Ho, OK! Beklah kalau begitu.
Setelah mendapatkan jadwal, langsung berseliweranlah rencana untuk sore tadi. Dari persiapan bawa baju ganti, buku, pamit sama Mamas, dst. Tak lupa rencana mampir beli makan, karena jam 16.00 adalah jam rawan lapar. Ndak dulu sebelum hamil, apalagi sekarang dalam kondisi hamil.
Terbayang sudah, pas berangkat dari kantor ke Kucala, aku akan mampir dulu ke Olive Chicken. Yaaa semacam KFC gitulah. Mau makan sama ayam goreng, plus sup *kalau ada*. Itu rencananya.

Tapi apa daya. Hujan mengguyur tepat ketika aku bersiap-siap berangkat. Dari kantor sudah pakai mantel, jadi mau mampir-mampir kok ya rasanya riweuh. Walhasil, ikhlasin ajalah ya bayangan makan ayam goreng di Olive Chicken.
Kenapa aku ndak maksain untuk mampir? Karena hujan sudah barang tentu. Yang kedua, toh sudah dapat ayam goreng *lauk sore* dari kantor, yang ndak kalah enaknya dengan ayam goreng di Olive Chicken. Yang ketiga, ngebayangin mie gorengnya mbak-mbak yang jaga di rumah Kucala, sama segelas teh panas. Hmmm..nikmatnyaa..*dalam bayanganku*
Alhamdulillah sampai Kucala dengan sedikit basah, meski hujan yang mengguyur cukup deras. Tak berapa lama aku duduk, terciumlah aroma sedap mie goreng. Sungguh menggoda. Ng..maksud hati minta izin untuk makan mie, tapi apa mau dikata, karena ternyata ndak diizinkan 😟😟 

Mamas lebih rela aku maem nasi kucing, yang itu aku harus melipir dulu ke angkringan, padahal kondisi masih hujan, daripada maem mie instant. Hoo, beklah…

Tapi ya, namanya rezeki ndak kemana. Ndak usah melipir keluar untuk beli nasi kucing ataupun yang lainnya, karena ada teman yang baik yang menawariku nasi. Alhamdulillah…rasa laparku teratasi. Bisa maem ayam goreng, tanpa harus mampir-mampir *karena udah diberi dari kantor*, ndak harus repot-repot keluar beli nasi kucing dalam kondisi masih hujan *karena ada yang nawari*. Perkara ndak boleh makan mie? Ya ndak apa-apa. Toh aku masih bisa menahan diri.


M: mau dibuatin apa? Rica-rica? Etapi rica-rica pedes ding.
A: ng….
M: Magelangan mau?
A: mau..tp ndak pake micin, cabenya 1 aja..

Dan…taraaaaaa!!! Mamacih eaaa πŸ˜™πŸ˜˜

View on Path


Jadiiii…yg masak ceritanya belum pernah nyicipin masakannya sendiri. Walhasil, krn sudah merasa lapar…buatlah mie godog.

Kalau diphoto masih kurang cantik sik, ya gimanaa, beliaunya ndak suka diberi tambahan sledri maupun bawang goreng..

🍜🍴

View on Path


Tanggal 1, 3 bulan yang lalu, kita bukanlah siapa-siapa.

Tanggal 1, 2 bulan yang lalu, kita resmi tercatat di KUA.

Tanggal 1, sebulan yang lalu, untuk pertamakalinya ngambek. Hanya masalah sepele, tapi apa daya karena aku lagi sensi, yang dikiranya PMS, dan ternyata bukan. Makanya aku ditertawakan, setelah tahu penyebabnya apaan.

Tanggal 1, hari ini, kita kembali mengukir sejarah. Bismillah…sebuah usaha untuk menjadi lebih baik. Menjadi suami yang bertanggungjawab dalam hal memberikan nafkah yang halal untuk anak istri.

Semoga pembukaan perdana hari ini lancar, banyak yang datang, dan mengakui bahwa masakan Mamase memang enak, sehingga membawa mereka kembali dilain hari.

Selamat berjuang ya, mas…
Semoga Allah memberikan keberkahan, kelancaran, dan juga kesabaran..
Yakinlah…rezeki kita tak akan tertukar.

View on Path

Wisuda-an 😄


Sabtu, 29 Mei 2016

Sekolah BiAS mengadakan event tahunan, yaitu Wisuda, sebuah persembahan bagi anak-anak yang telah menyelesaikan sekolahnya, dari jenjang paling kecil yaitu PlayGroup hingga paling besar SMA. Bertempat di Balai Shinta, Gedung Mandala Bhakti Wanitatama.

Kehebohan persiapan sudah terlihat dari sehari sebelum hari H. Dari dekorasi lokasi wisuda, yang berupa panggung, tempat duduk wisudawan/wati dan wali wisudawan/wati, hingga ruang makan. Bahkan dari jauh-jauh hari, karena cukup banyak yang harus dipersiapkan.

Tepat jam 5.30 sudah terlihat beberapa wisudawan yang datang. Terutama mereka yang jenjang SMP-SMA. Dengan penampilan yang lain dari biasanya, menggunakan baju bodo untuk yang putri, dan setelan jas untuk yang putra. Sungguh mereka terlihat cantik [putri], dan gagah [putra]. Bakalan pangling! 😁😄

Sebelum prosesi wisuda, masih bagian dari rangkaian kegiatan wisuda, masing-masing anak diminta maju ke panggung, kemudian menyampaikan pidato yang lebih kurang 5 kalimat. Sebuah pidato yang berupa kesan, pesan, harapan, dan cita-cita dari mereka. Bagi saya, yang mendengarkan pidato mereka, turut berbahagia dan berbangga. Dan hanya bisa mendo’akan, apa yang menjadi cita-cita mereka terwujud. Mereka tetap menjadi bagian dari perjuangan, bagi tegaknya agama Islam. Dalam bidang apa? Apa saja.

Ada yang bercita-cita sebagai dokter, dan sekarang sedang mengupayakannya. Ada yang menjadi Engineer, ada yang sangat tertarik dengan hutan, obat-obatan [farmasi], arsitek, dan lain sebagainya. Semoga Allah memberikan kemudahan dan kelancaran dalam menggapai cita-cita.

Masih teringat hari-hari terakhir di Asrama, seringkali saya tanyakan kepada mereka, mau kuliah di mana? Kenapa memilih jurusan itu? Dan mimpi-mimpi itu terucap sudah. Yang ingin jadi dokter, jadilah dokter spesialis kandungan. Kenapa? Karena belum banyak dokter spesialis kandungan yang berjenis kelamin perempuan. Ada yang bercita-cita punya peternakan. Katanya, Indonesia itu kan tanahnya masih luas, jadi ya kenapa tidak membuat peternakan, dengan tujuan bisa mencukupi kebutuhan konsumsi di Indonesia. Yaa..sebuah mimpi dan cita-cita yang besar.

Adik-adik…kita bersama sudah cukup lama. Ada yang 6 tahun, ada juga yang 4 tahun. Banyak hal yang sudah kita lalui, baik suka maupun duka. Jujur, mbak kagum sama kalian. Dengan kegiatan yang seabrek, kalian tetap berprestasi. Goal diterima di PTN, sudah kalian buktikan. Baik lewat jalur SNMPTN, SBMPTN, maupun UM. Yang keterimanya di PTS bagaimana? Ya, tidak apa-apa. Selamat berjuang menimba ilmu yang lebih banyak. Maksimalkan bekal yang sudah kalian dapatkan. Lanjutkan belajar kitabnya, menghafal muf-shor, belajar nahwu, juga tahfidznya. Perjuangan masih panjang. Buktikan, bahwa kalian adalah bagian dari Generasi Emas 2030. Generasi yang akan membawa Indonesia menjadi lebih baik.